Terik matahari seolah menghisap sisa cairan terakhir dari tubuhku. Tenggorokan ini kering, rasanya seperti mengunyah pasir. Aku megap-megap, berlutut di tengah padang pasir yang membakar dan tak bertepi. Napasku patah-patah, kesadaran pelan-pelan terkikis oleh fatamorgana.
Tiba-tiba, suara gemuruh baling-baling memecah kesunyian gurun.
Di atas sana, sebuah helikopter militer berbendera Amerika Serikat melayang merendah. Menerjang angin dan pasir yang bertiup kencang, aku mengerahkan sisa tenaga terakhir untuk melambaikan tangan setinggi-tingginya.
"Heeiii...!! Di sini...!! Heeiii...!!" teriakku parau.
Helikopter itu mendarat. Debu membubung tinggi. Dari dalam kabin, sesosok pria berseragam lengkap melompat turun dan memburu ke arahku. Kapten Mr. John. Matanya membelalak kaget saat mengenali wajahku di balik gumpalan debu gurun.
"Loh, kau ada di sini?!" serunya tak percaya, menahan bahuku yang gemetar.
Aku menyunggingkan senyum tipis, menepuk lengannya lemah. "Iya... nanti saja kuceritakan."
Antara Kilatan Kamera dan Bayangan Pasti
Akhirnya, aku bisa pulang. Terbang menembus awan, dibonceng oleh sang besi terbang menyeberangi lautan dan benua. Namun, memori tentang teriknya gurun pasir itu seakan enggan pergi. Lamunanku masih terngiang, membawa aura dingin yang kontras dengan kenyataan yang kini ada di depanku.
Suara jepretan kamera dan kilatan lampu flash memutus lamunanku seketika.
Aku kini berada di sebuah ruangan megah. Ruang konferensi pers. Puluhan wartawan berebut melempar pertanyaan, mikrofon menumpuk di depan meja. Namun, aku hanya terdiam. Bibirku terkunci rapat, enggan menguraikan apa yang baru saja kulalui di padang pasir itu. Biarlah kisah itu menjadi rahasia antara aku, Mr. John, dan pasir gurun.
Kepulangan yang Sesungguhnya
Di tengah riuhnya kerumunan dan kilatan kamera yang membabi buta, pandanganku tertuju pada satu sosok di sudut ruangan.
Popi.
Asisten kepercayaanku yang telah setia mendampingi setiap langkahku selama puluhan tahun. Ia berdiri tenang di sana, memegang dokumen yang tak lagi dihiraukannya. Begitu mata kami saling bertatap, kelopak matanya langsung berkaca-kaca. Ada keharuan mendalam yang memancar dari wajahnya—campuran antara rasa lega, cemas yang tuntas, dan kesetiaan yang tak pernah padam.
Ia tidak ikut merangsek maju seperti para pemburu berita. Popi hanya menatapku lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tulus yang sangat kukenal.
"Welcome home..." katanya pelan, hampir berupa bisikan, namun menggema paling keras di dalam dadaku.


0 Komentar