"Yansen, marilah kita pergi..." ujarku pelan sambil berusaha membopong tubuhnya yang kian melemah.
"Aku... sudah tak tahan lagi," bisik Yansen. Suaranya serak, tertahan oleh darah yang menyumbat tenggorokannya.
"Katanya kau mau pergi menemui keluargamu?" tanyaku, mencoba menahan air mata yang mulai mendesak keluar.
Yansen tersenyum getir. "Keluargaku sudah tidak ada... Mereka dibunuh oleh Bin Laden Grup. Aku mau menemui mereka sekarang..."
Seketika itu pula, genggaman tangannya terlepas. Yansen menghembuskan napas terakhirnya di pangkuanku.
Hening sejenak. Namun, rasa duka itu langsung berganti menjadi kemarahan murni. Aku menolak berpangku tangan atau berdebat dengan takdir. Satu per satu dari gerombolan penyerang itu harus membayarnya—akan kuhabisi mereka bagaikan membantai tikus di sarangnya.
Di telapak tanganku, panel pengendali api diaktifkan. Tanpa ragu, aku menyemburkan semburan api raksasa yang kian membara, membakar habis barikade dan siapapun yang menghalangi jalan.
Aku menerobos keluar dari tempat persembunyian. Begitu menampakkan diri, udara malam langsung dihiasi letupan ribuan peluru yang membredel ke arahku. Dentuman demi dentuman menghantam perisai proteksiku hingga akhirnya tembakan mereka mereda karena kehabisan amunisi.
Asap tipis mengepul dari tubuhku. Aku menatap mereka dingin.
"Sekarang giliranku."
Di bawah telapak kakiku, panel dorong pneumatic menghembuskan angin bertekanan maha dahsyat. Tubuhku meluncur deras, terangkat dan melayang bebas ke udara.
Dari ketinggian, mataku menyapu lanskap pertempuran. Di kejauhan, tampak armada tempur utama mereka: barisan tank nomor 23 dan varian Tank 222 keluaran terbaru yang digadang-gadang tak tertembus. Tanpa membuang waktu, aku menukik menembus barisan pertahanan mereka. Semburan api raksasa melahap baja-baja keras itu hingga meledak beruntun, membumbungkan awan cendawan api ke angkasa.
Aku kembali melesat, terbang semakin tinggi melintasi awan.
Namun, di puncak ketinggian, indikator sistem mendadak berkedip merah. Suara peringatan melengking kencang—efek beban daya ekstrem membuat mesin pendorongku mati total!
Daya gravitasi menarikku kembali ke bumi dengan kecepatan mengerikan. Aku meluncur, menukik bebas tanpa kendali, hingga akhirnya—
BOOM!
Tubuhku menghantam hantaran pasir gurun yang luas, menciptakan dentuman dahsyat dan menyebarkan badai debu ke segala arah.


0 Komentar