Recents in Beach

header ads

di luar goa irak 3

Suara deru mesin diesel berat meraung, menggetarkan plat besi dingin tempat kami berpijak. Bau minyak pelumas bercampur debu menyengat di dalam ruang sempit yang pengap. Di luar, dentuman artillery bersahut-sahutan, namun bagi kami, itu hanyalah kebisingan latar belakang dari pekerjaan yang tak kunjung usai.

Selagi kami bekerja mengencangkan rangkaian kabel dan komponen mekanis, aku mencoba memecah kesunyian.

"Bagaimana dengan keluargamu, Yansen?" tanyaku, tanpa mengalihkan pandangan dari panel meteran.

Yansen tak menghentikan gerakannya. Ia mengusap peluh di dahi dengan lengan baju yang pekat oleh noda oli. Wajahnya datar, hampir tanpa ekspresi.

"Keluargaku baik-baik saja," ujarnya tenang, begitu dingin. "Semuanya disekap dalam tahanan Bin Laden Group."

Sebuah pernyataan yang mengerikan, namun di tempat ini, tragedi telah berubah menjadi lelucon sehari-hari. Yansen mengatakannya seolah-olah sedang membicarakan cuaca.

Ia lalu menoleh padaku, matanya yang cekung menyiratkan kelelahan mendalam. "Bagaimana tentang kehidupanmu?"

Aku tertawa hambar. Napasku berat.

"Kehidupanku? Seperti yang kamu lihat sekarang," kataku, menggerakkan tanganku yang kaku. "Aku terbelenggu."

Aku menyenderkan punggung ke dinding besi Tank 222. Memori masa lalu mendadak berhamburan masuk tanpa diundang—membawa bayangan masa-masa liar yang kini terasa sangat asing.

"Sebenarnya dulu cukup mudah," lanjutku, menyusuri kembali ingatan yang tertutup debu. "Waktu aku di Amerika... waktu aku di Las Vegas. Aku pergi ke bioskop, keluyuran dan bermain dengan cewek-cewek. Aku pergi main judi, menghabiskan malam dengan meja poker. Aku juga mabuk-mabukan."

Yansen tetap menyimak dalam diam. Di tempat seperti ini, kenangan adalah satu-satunya pelarian yang tersisa, betapa pun dangkalnya kenangan itu.

"Tapi sekarang aku sadar..." Suaraku memelan, tertahan di tenggorokan. Tanganku bergetar saat menyentuh panel antarmuka Neo Rilink—teknologi konektivitas neural buatan masa laluku yang kini terpasang rapi di inti kendali mesin ini.

Kesadaran pahit menghantamku seketika. Ironi dari apa yang telah kuciptakan untuk dunia.

"Ke mana Neo Rilink milikku dipakai?" bisikku, lalu menatap dinding baja tebal di sekeliling kami. "Tank 222 ini... sebenarnya mau dibawa ke mana? Dipakai untuk apa semua ini?"

Yansen tidak menjawab. Ia kembali menunduk, merapikan perkakasnya. Di saat yang sama, moncong besar Tank 222 berderit pelan, berputar otomatis digerakkan oleh algoritma Neo Rilink milikku—mengarah tepat ke batas kota yang sebentar lagi akan menjadi lautan api.

Posting Komentar

0 Komentar