Langkah kaki pertama setelah berdiri terasa seberat gunung. Gemertak pasir kering bertiup masuk lewat celah-celah celah mulut gua, membawa hawa panas yang membakar dari padang gersang Irak yang terhampar luas di luar sana.
Gua batu yang gelap dan lembap ini—atau lebih tepatnya, sebuah penjara terselubung di tengah gurun—menjadi saksi bisu rasa sakit yang menjalar di dada.
"Ini apa...?" bisikku lirih, napas terengah-engah. Suaraku parau, tertahan di tenggorokan yang kering.
Di sampingku, Yansen baru saja meletakkan sepasang tangannya yang berlumuran oli dan debu batu. Tanpa bantuan dan jemari terampil Yansen, aku mungkin tidak akan pernah membuka mata lagi.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu," kata Yansen, menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju yang compang-camping. Matanya menatap tepat ke arah dadaku. "Itu NeoRezium Pulse. Senjata serangan tadi tepat menghantam dadamu, menembus jaringan vital. Aku harus memasangnya sebelum detak jantungmu benar-benar mati."
Aku menunduk. Di balik robekan bajuku yang tersisa, sebongkah lingkaran logam bercahaya kebiruan tertanam rapi di tengah dada. Senyap, namun terasa ada getaran ritmis yang konstan.
Dengan jari yang sedikit gemetar, aku menggetok pelan permukaan alat itu. Tuk... tuk...
Suara gaung mekanis yang halus bergema pendek. Alat itu merespons ketukan jariku dengan pendaran cahaya yang sedikit berdenyut lebih terang. Ada layar mikro yang menyala samar, menampilkan baris angka dan grafik frekuensi yang naik turun—sebuah sistem terpadu yang kini bertindak sebagai pendeteksi sekaligus pemompa otomatis untuk menggerakkan kembali jantungku yang sempat terhenti.
Teknologi ajaib di dalam gua penangkapan yang sarat kesengsaraan.
"Alat itu yang menahan nyawamu sekarang," tambah Yansen, menepuk bahuku pelan. "Setiap kali jantungmu melemah atau melambat akibat efek serangan, NeoRezium Pulse akan menyetrumnya secara presisi agar menyengat detaknya kembali."
Perlahan, aku mencoba menumpu berat badan pada kedua kaki. Sendi-sendiku meliuk kaku, namun daya dorong dari alat di dadaku seperti menyalurkan energi asing yang hangat ke seluruh aliran darah.
Aku benar-benar berdiri tegak.
Cahaya menyilaukan dari mulut gua yang menghadap padang gersang Irak menanti di depan. Di dalam penjara batu ini kami ditahan, tetapi dengan detak buatan yang bergetar riuh di dalam dada, aku tahu perjuangan kami baru saja dimulai.


0 Komentar