Recents in Beach

header ads

diwantara 2

Danu membeku. Besi dingin di tengkuknya seolah menyedot seluruh kehangatan dari tubuhnya.
"Jangan bergerak. Pelan-pelan berdiri," perintah pria berbadan tegap di belakangnya dengan suara serak menakutkan.
Danu mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. Ponsel yang masih menyala dan merekam video itu disembunyikan rapat-rapat di dalam genggaman jemarinya. Dengan gerakan lambat, ia memutar tubuhnya.
Di depannya berdiri seorang penjaga jip berjaket kulit basah. Pria itu menyeringai, lalu mendorong punggung Danu keras-keras hingga ia tersungkur masuk ke dalam gubuk, tepat di bawah pendar temaram lampu teplok.
Brak!
"Ada tamu tak diundang, Pak," kata penjaga itu dingin.
Suasana di dalam gubuk seketika hening. Tawa Cecep terhenti mendadak. Wajahnya yang semula sumringah berubah pucat pasi melihat Danu terjerembap di tanah berlumpur. Bundelan uang kertas di tangannya hampir saja jatuh.
Diwantara hanya menaikkan satu alisnya, tetap tenang seolah kedatangan Danu hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.
"Danu...?" bisik Cecep, suaranya bergetar. "Kamu... kok bisa ada di sini?"
Danu bangkit perlahan, menyapu lumpur di lututnya. Matanya yang merah menatap lurus ke arah Cecep dengan sorot penuh kekecewaan yang mendalam.
"Tiga ratus lima puluh hektar... lalu tiga ribu hektar..." Danu tertawa sumbang, menggelengkan kepala. "Hebat kamu, Kang Cecep. Sandiwara kamu di pondok tadi betul-betul sempurna. Aku hampir saja mati kasihan sama kamu."
Cecep mengalihkan pandangannya, tak sanggup menatap mata Danu. Ia dengan cepat menyembunyikan tumpukan uang itu ke dalam tas serempangnya. "Nu, kamu nggak paham... ini bisnis gede. Kamu cuma orang luar yang cuma butuh komisi—"
"Aku memang orang luar!" potong Danu, suaranya menggelegar menyaingi petir di luar. "Tapi aku punya otak dan hati! Kamu menjual tanah kelahiranmu sendiri, menjual warga desa yang menyapa kamu tiap pagi, demi seikat uang ini?!"
"Cukup," potong Diwantara singkat.
Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Danu. Tatapannya dingin dan kalkulatif. Diwantara melirik tangan kanan Danu yang masih terkepal rapat di balik lipatan jaketnya.
"Serahkan ponselmu, Danu," kata Diwantara pelan namun penuh penekanan. "Saya tahu kamu merekam sesuatu tadi."
"Kalau aku tidak mau?" tantang Danu, mengepalkan jarinya lebih erat.
Diwantara tersenyum tipis—sebuah senyuman tanpa kehangatan. Ia memberi isyarat mata kepada dua pria berbadan tegap di belakang Danu.
"Di daerah terpencil seperti Mandalasari, orang hilang di tengah malam musim hujan bukanlah hal yang aneh," bisik Diwantara rapat di telinga Danu. "Pikirkan baik-baik. Pilih ponselmu, atau nyawamu?"
Dua penjaga itu maju satu langkah, siap menerkam. Danu merasakan dadanya bergemuruh hebat. Di satu sisi, video di ponsel ini adalah satu-satunya pelindung Desa Mandalasari. Di sisi lain, ia dikepung tanpa ada celah untuk lari.
Danu menatap Cecep sekali lagi. "Kang... ini kesempatan terakhirmu untuk jadi manusia."
Cecep memegang tali tasnya erat-erat, matanya liar ketakutan, tetapi ia tetap berdiri di samping Diwantara tanpa menggerakkan sepatah kata pun. Ia telah memilih pihak.
Danu menarik napas panjang. Ia perlahan menurunkan tangannya dan mengulurkan ponselnya ke depan.
"Ini yang kamu mau, kan?" kata Danu pelan.
Diwantara tersenyum puas dan mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel itu—tanpa menyadari bahwa jempol Danu baru saja menekan tombol 'Send' ke grup obrolan seluruh kepala RT Desa Mandalasari.

Layar ponsel Danu berkilat sebentar—tanda checklist ganda di grup obrolan warga telah terkirim. Sinyal jelek di lereng galian rupanya sempat meloloskan paket data video berdurasi dua menit itu tepat sebelum koneksi benar-benar terputus.
Diwantara merampas ponsel itu, mengamati layarnya yang langsung mati habis baterai, lalu tersenyum dingin. "Pilihan cerdas, Danu."
Ia melempar ponsel itu ke lantai semen gubuk dan memijaknya dengan sepatu boot hingga hancur berkeping-keping. Krak.
"Bawa dia keluar. Lempar ke jurang galian belakang," perintah Diwantara santai pada dua pengawalnya sambil merapikan jas. "Biar dikira terpeleset karena hujan."
Dua pria berbadan tegap itu langsung mencengkeram kedua lengan Danu. Danu memberontak, tetapi tenaga dua pria trained itu jauh lebih kuat. Ia diseret keluar menembus tirai hujan yang makin lebat menuju tebing galian pasir.
"Kang Cecep! Kamu cuma diam?!" teriak Danu menoleh ke belakang. "Video itu sudah terkirim ke Pak RT dan seluruh warga! Sepuluh menit lagi mereka sampai di sini!"
Cecep tersentak kaget. "Apa?! Kamu kirim ke warga?!"
"Bonghong dia, Pak!" potong salah satu pengawal. "Sinyal di sini mati dari tadi!"
Namun, belum sempat mereka mencapai bibir jurang, terdengar deru meraung-raung dari arah bawah bukit. Puluhan sorot lampu sepeda motor mendadak membelah kegelapan rimba bambu.
Suara kentongan kayu bertalu-talu menggelegar menembus deru hujan—suara tanda bahaya warga desa (jimat ronda).
"Itu warga! Warga benar-benar datang!" jerit Cecep panik, tas uangnya hampir terlepas dari genggaman. "Pak Diwantara, kita harus kabur!"
Pria-pria tegap itu panik dan refleks melepas cengkeraman mereka pada Danu untuk bersiap lari menuju jip. Danu tak menyia-nyiakan detik itu. Dengan sisa tenaganya, ia memutar badan dan melayangkan pukulan keras tepat ke rahang pengawal terdekat, lalu melompat berlindung ke balik rumpun bambu tebal.
"Bakar gubuknya! Ambil mobil!" teriak Diwantara, yang kini kehilangan ketenangannya.
Jip hitam itu meraung mencoba memutar balik di jalan lumpur yang sempit. Namun terlambat. Puluhan warga Mandalasari yang membawa obor, cangkul, dan pentungan kayu sudah mengepung persimpangan jalan galian. Di barisan depan, Pak RT memegang ponselnya yang masih menyalakan rekaman video bukti kejahatan Cecep dan Diwantara.
"Itu mereka! Jangan biarkan mobilnya lolos!" teriak warga bersahut-sahutan.
Lampu-lampu jip mengarungi lautan warga yang marah. Di dalam gubuk yang mulai dikerumuni orang-orang desa, Kang Cecep terduduk lemas di atas lumpur, memeluk tas uangnya yang kini tak ada artinya lagi. Tangis penyesalannya pecah, tetapi tak ada lagi suara hujan yang sudi memaafkannya.
Danu keluar dari persembunyiannya, berdiri di tengah guyuran hujan, menatap mantan sahabatnya yang kini diamankan oleh warga.
Prahara Mandalasari malam itu berakhir, dan Danu tahu, namanya telah bersih dari pengkhianatan.

Posting Komentar

0 Komentar