Recents in Beach

header ads

di luar goa irak 7

Hawa dingin kamar perbengkelan itu terasa makin menusuk kulit. Di atas meja kerja, perkakas elektrik dan serpihan komponen berserakan. Sebelum berkemas untuk perjalanan jauh yang sudah lama kurencanakan, ada satu hal vital yang harus kutuntaskan.
Aku meraba dadaku. Lingkaran cahaya berpendar di balik kausku mulai meredup, berkedip pelan menandakan daya yang kian menipis. Aku harus mengganti Arc Reactor ini sekarang.
"Popi..." panggilku, suaraku terdengar sedikit parau di tengah kesunyian ruangan.
"Ke sinilah," ujarku lagi.
Tak lama, langkah kaki Popi terdengar mendekat. Wajahnya menyiratkan rasa cemas yang tak bisa ia sembunyikan. Tiba-tiba tubuhku terasa begitu lemas. Aku berbaring di atas dipan kayu tempatku biasa menginstalasi perangkat mekanik.
"Ada apa?.." ujar Popi seraya berlutut di samping dipan, matanya menatap lekat pada pendar redup di dadaku.
"Ini aku... tolong gantikan Arc Reactor," ujarku menahan napas, meraih unit reaktor baru yang sudah kusiapkan di samping dipan.
Popi mengangguk pelan. Tangannya yang sedikit gemetar mulai membuka pengunci panel dada. Ia menarik perlahan inti reaktor yang lama. Namun, saat hendak menancapkan unit baru, ada dua utas kabel warna tembaga yang bentuknya sangat identik. Tanpa disadari Popi, posisi kedua kabel itu tertukar.
Tiba-tiba—ZZZZTTT!
Percikan api biru meloncat tajam tepat di rongga dadaku. Arus liar langsung menghantam saraf dan jantungku.
"Oouucchh...!" jeritku refleks, tubuhku kejang sesaat sebelum pasokan listrik terputus otomatis.
Aku terengah-engah, memegangi dada dengan napas memburu dan dada yang terasa panas. Popi menutup mulutnya, terkejut setengah mati.
"Jangan sekali-kali lagi..." ujarku lirih sambil meringis, menatap kabel di tangan Popi. "Aku tersetrum..."

Posting Komentar

0 Komentar