Malam di atas Las Vegas selalu punya caranya sendiri untuk memamerkan cahaya. Namun malam itu, kilau neon kasino dan kerlip lampu penerbangan di bawah sana berubah menjadi garis-garis cahaya samar saat aku melesat naik.
Aku terbang menembus dinginnya malam, berayun bebas mengitari dan merobek cakrawala. Angin malam meraung manis di telingaku, seolah menyetujui satu-satunya cita-cita nekat yang mendadak muncul di dadaku:
"Aku ingin sampai ke bulan!" teriakku pada ketiadaan.
Wisss... wisss...!
Mesinku meraung semakin kuat. Pemandangan Las Vegas perlahan mengerdil, menyusut menjadi seperti hamparan bintik emas di atas kain hitam, hingga akhirnya lenyap sama sekali digantikan oleh kegelapan ruang hampa. Bulan—benda langit besar berselimut debu perak itu—kini membentang lebar persis di hadapanku.
Tiba di orbitnya, sensasi aneh mulai menjalar. Gaya gravitasi mendadak terasa begitu pendek, menarik dan mengambang di saat yang bersamaan. Atmosfer abu-abu bulan semakin dekat, kawah-kawah cantiknya terlihat begitu jelas. Aku tersenyum, bersiap untuk sebuah pendaratan yang legendaris.
PLUPP!
Keheningan mendadak menyergap. Suara deru mesin hampa seketika. Panel indikator mati total.
"Tidak... bagaimana ini?!" ujarku panik. Tubuhku dan kendaraanku mulai meluncur bebas, jatuh bebas tanpa tertahan ke permukaan bulan yang keras.
"Aktifkan payung! Aktifkan parasut!" jeritku, jemariku menekan tombol darurat secara membagibutai.
Klik. Klik. Hampa.
Oh tidak! Ternyata payung daruratnya sama sekali tidak ada!
Permukaan kawah bulan membesar dengan kecepatan yang mengerikan. 100 meter... 50 meter... 20 meter... Bayangan kematian sudah membayang di balik helmku. Aku memejamkan mata, bersiap menabrak debu abadi.
Hampir 10 meter lagi!
BRRRMMM!
Detak jantungku hampir berhenti saat tiba-tiba getaran hebat muncul kembali. Lampu indikator menyala terang berturut-turut. Mesinku hidup kembali di detik-detik paling kritis!
Dengan satu dorongan impulsif pada tuas gas, dorongan angin dan api melontarkanku membalikkan arah, tepat beberapa meter sebelum menghempas tanah bulan. Debu-debu terlempar hebat saat aku berhasil memutar arah menembus kembali gravitasi tipis itu.
Napas bertaburan di dadaku. Aku lolos.
Akhirnya, dengan dorongan penuh, aku meninggalkan permukaan perak itu dan meluncur kembali melintasi kegelapan menuju rumah.
Wisss... wissshhh...!


0 Komentar