Setelah kembali dari perjalanan ke Bulan, tanganku masih terasa kaku saat merapikan sisa debu antariksa di permukaan baju zirahku.
"Posisi pengait bahu sudah terkunci sempurna," suara tenang Jarvis terdengar dari perangkat di samping telinga. "Semua sistem dalam kondisi stabil, Pak."
Aku mengangguk pelan, lalu meletakkan baju zirah itu ke tempat penyimpanan khusus. Awalnya aku bertekad tak mau memikirkan hal lain—cukup sudah petualangan di luar angkasa itu. Aku tak tertarik pada keramaian, tak tertarik pada sorotan kamera atau tawa yang tak berarti. Tapi saat aku hendak beristirahat, layar pintu menyala. Ada undangan tertulis rapi: Pesta malam di St. John, Jalan California.
Aku menghela napas panjang, lalu berbalik menuju lemari. Aku memilih setelan jas berwarna gelap yang pas di badan, merapikan kerah hingga sempurna. Tak lama kemudian, suara deru mesin terdengar memecah keheningan—Lamborghini-ku sudah siap. Aku menyalakan mesin, dan dalam sekejap, aku melesat menuju lokasi.
Saat aku tiba, lampu-lampu pesta menyilaukan, musik mengalun lembut namun meriah. Di sana, deretan wajah yang sering muncul di layar kaca—artis ternama, tokoh publik—berkumpul saling menyapa. Tak jauh dari sana, aku melihat Wily sedang tertawa bersama beberapa orang. Tapi mataku langsung tertuju pada satu sosok yang berdiri sendirian di sudut teras, memandang ke arah taman gelap. Itu Popi.
Aku berjalan mendekat, langkahku tak berisik. Dia baru menoleh saat aku sudah berdiri di sampingnya.
"Hai," sapaku pelan. "Kau mau minum apa?"
Popi tersenyum tipis, matanya sedikit terkejut. "Oh kau... Aku sudah minum kok."
"Kopi cappuccino kesukaanmu, kan?" kataku lagi.
Dia tertawa kecil, mengangguk pelan. "Ya sudah, samakan saja punyaku."


0 Komentar